Galeri Buku

 

Confessions of an Economic Hit Man

Kisah persekongkolan antara pemerintah Amerika, badan intelijen CIA dan NSA, perusahaan-perusaahan besar di Amerika dan badan keuangan/perbankan.  Dibentuklah sebuah gugus tugas yg terdiri dari sejumlah EconomicHitMan (EHM), dikirim ke berbagai negara yang menjadi target.  EHM bertugas untuk membuat analisa/prediksi/perhitungan perkembangan/pertumbuhan ekonomi suatu negara, termasuk project apa saja yg perlu dibangun, prediksi pertumbuhan ekonomi (dalam persen), dan akhirnya jumlah dana yg dibutuhkan untuk melaksanakan rencana-rencana tadi.  Hebatnya skenario sudah dibuat sebelumnya, analisa ekonomi direkayasa, sehingga didapatkan gambaran yg sangat bagus tentang pertumbuhan ekonomi suatu negara, dengan catatan dibutuhkan sejumlah pembangunan infrastruktur,  dan untuk itu dibutuhkan dana. Dana yg dibutuhkan akan disediakan oleh perbankan (dalam bentuk pinjaman dan bukan hibah), sedangkan perusahaan-perusahaan tadi kebagian kontrak untuk melaksanakan project-project yg disarankan oleh EHM.
Singkat kata, negara target ditipu mentah-mentah oleh konspirasi tadi, Perkins menyebut pelakunya sebagai corporatocracy. 
 
Perkins datang ke Indonesia pada tahun 1971 bersama satu tim beranggota 11 orang. Spesialisasi Perkins adalah di sektor listrik, jadi dia membuat analisa tentang kebutuhan listrik, pertumbuhannya, dsb, dalam hal ini dia bertindak sebagai konsultan untuk PLN.  (terjemahan bahasa Indonesia oleh penerbit Gramedia).

Ada sebuah kartun dari http://www.cowboybooks.com.au yg memperlihatkan bagaimana para EHM bekerja.

 

 

Power & Terror

Siapa tidak kenal Noam Chomsky, "Bapak Teori Konspirasi" ?, dalam bukunya berjudul Power & Terror ini, Chomsky berkisah dengan gamblang bagaimana Amerika Serikat memberi dukungan penuh atas teror yang dilakukan sejumlah negara terhadap rakyatnya sendiri, semuanya tentu untuk kepentingan politik dan atau ekonomi Amerika Serikat. Chomsky melihat bahwa ada korelasi positif antara besarnya bantuan dari Amerika yang diterima suatu negara (termasuk bantuan militer) dengan tingginya angka pelanggaran HAM, yang umumnya dilakukan oleh aparat militer. Buku ini juga memperlihatkan bahwa Islam bukan satu-satunya korban dari imperialisme Amerika, adalah Gereja Katolik Amerika Latin dengan Teologi Pembebasan-nya yang harus berhadapan langsung dengan militer. (terjemahan bahasa Indonesia oleh penerbit Ikon Teralitera, Jogyakarta).

 

Di bawah Bendera Revolusi

Bung Karno sungguh seorang negarawan besar, seorang nasionalis, seorang presiden yang tidak hanya cakap berorasi tapi jauh lebih dari itu adalah seorang yang sangat mencintai rakyatnya.

Buku ini adalah edisi cetak ulang (2005) dari sebuah kumpulan tulisan Ir. Soekarno yang pertama kali terbit pada tahun 1959.

Tentang kapitalisme, Bung Karno mengatakan:"...itulah kapitalisme!- yang prakteknya kita bisa lihat di seluruh dunia. Itulah kapitalisme, yang ternyata menyebarkan kesengsaraan, kepapaan, pengangguran, balapan tarif, peperangan, kematian, pendek kata merusakkan susunan dunia yang sekarang ini. Itulah kapitalisme yang melahirkan modern imperialisme, yang membikin kita dan hampir seluruh bangsa berwarna menjadi rakyat yang cilaka!" (halaman 170).

Sementara Bung Karno sudah membuat tulisan di atas pada tahun 1932, sulit dibayangkan seorang politisi atau negarawan Indonesia di masa sekarang bisa mengucapkan kata-kata seperti itu, sebaliknya dengan senang hati mereka akan menjual negaranya untuk memperkaya diri sendiri.

Tentang Ahmadiyah yang baru-baru ini oleh Fatwa MUI dianggap haram, Bung Karno pada 1936 menuliskan demikian:"Dan mengenai Ahmadiyah, walaupun beberapa fatsal di dalam mereka punya visi saya tolak dengan yakin, toch pada umumnya ada mereka punya features yang saya setujui: mereka punya rasionalisme, mereka punya kelebaran penglihatan (broadmindedness), mereka punya modernisme, mereka punya hati-hati terhadap kepada hadits..."

Jelas betul bagaimana Bung Karno memberi penghormatan dan penghargaan bahkan terhadap aliran yang tidak sepenuhnya dia setujui.    Sementara banyak tokoh masyarakat Indonesia setelah lebih 60 tahun merdeka, masih belum bisa melakukan hal seperti itu.

Bagi Anda yang ingin mengenal Bung Karno lebih dalam, buku ini sangat dianjurkan, penuh dengan pemikiran dan gagasan besar beliau. Beruntunglah kita bahwa buku ini telah dicetak ulang setelah 40 tahun berlalu.

 

 

Saya Terbakar Amarah Sendirian !

Pramoedya Ananta Toer dalam Perbincangan dengan Andre Vltchek & Rossie Indira

... bagaimana gerangan kehidupan Pram sekarang ini bisa disebut sebagai "terasing di negeri sendiri ?"

Pernyataan-pernyataan Pram di dalam buku ini memberikan jawaban yang panjang atas pertanyaan tersebut, dimulai dan diakhiri dengan komentar bahwa dia masih merasa terbakar amarah sendirian ketika memikirkan soal Indonesia, yang disebutnya sebagai "kebakaran sendiri" (hlm 2, 119). Kemarahannya yang terpendam terungkap dalam perbincangan mengenai tudingannya terhadap masyarakat yang konsumtif, merajalelanya korupsi, hancurnya kebudayaan, dan amnesia sejarah.

Sebagaimana karya-karya sastranya, di dalam buku ini Pram juga berusaha melibatkan pembacanya dalam pengalaman Indonesia sebagai bangsa. Bukan itu saja, ketika bicara tentang penindasan historis, politis dan tak manusiawi, dia bicara tanpa tedeng aling-aling sebagai orang yang mengalami sendiri, berpendirian teguh, dan bersemangatkan kemanusiaan. Karena itu buku ini patut dibaca oleh semua kalangan yang ingin memahami akar-akar persoalan di Indonesia dewasa ini.  (Penerbit Kepustakaan Populer Gramedia, Januari 2006).

 

Agama Masa Depan

Buku ini sangat menarik bagi saya, terutama bukan tentang agama masa depan, tapi karena dalam buku ini kita diajak (dg menggunakan metode perennial) untuk menghormati keyakinan agama lain, bertoleransi tanpa sekalipun mengingkari iman yg kita yakini.  Bahwa Allah itu Yang Satu dan kebenaran mutlak, namun memancar dalam banyak "kebenaran" dalam berbagai agama.  Masing-masing agama tentu mengklaim dirinya adalah Kebenaran namun tetap harus menyadari fakta bhw ada agama lain juga yg mengklaim dirinya juga sebagai benar. Ini disebut sebagai "relatively absolute", atau mutlak secara relatif.

Khusus bagi Indonesia dimana isu agama begitu sensitif, sehingga satu kesalahpahaman kecil saja bisa menyebabkan puluhan rumah ibadat dihancurkan, maka buku seperti ini benar-benar menyegarkan dan mencerahkan. (Penerbit Gramedia, 2003)
 

 

G 30 S Sejarah yang Digelapkan

Siapa sesungguhnya dalang dari peristiwa G 30 S  PKI ?  terdapat empat pendapat tentang hal tersebut yaitu:  1. Soekarno, 2. PKI, 3. Konflik Internal TNI-AD, dan 4. Soeharto. Mana yang benar ?

Tidak terhitung banyaknya buku yang membahas hal ini, masing-masing dengan pendapat dan argumennya sendiri.  Bagaimana Anda sendiri akan berpendapat ?, pertama-tama yang dibutuhkan  adalah niat baik dan kejujuran.

Harsono Sutejo atau Harsutejo dalam buku ini mengatakan bahwa sejarah telah digelapkan, penyebab malapetaka G 30 S ditimpakan pada satu kelompok PKI dan seorang LetKol Untung, yang mungkin sekali sangat loyal kepada Presiden Soekarno, Prof Benedict Anderson dari Cornell University bahkan menyebutnya hanyalah seorang anak bodoh yang berani dan bukan manipulator pintar yang penuh perhitungan (halaman xviii).

Untung adalah seorang militer lapangan, sama sekali bukan tipe intelektual dengan otak cemerlang yang mampu melakukan langkah manipulasi canggih penuh perhitungan. Sekalipun demikian ia salah satu lulusan terbaik Akademi Militer.  Untung adalah anak buah Soeharto di Divisi Diponegoro, dia pernah menjabat Komandan Batalyon 454.  Letkol Untung menikah akhir 1964 di suatu tempat di desa terpencil Kebumen. Sekalipun demikian Mayjen Soeharto bersama istri hadir ke tempat pernikahannya itu yang pada kala itu tidak begitu mudah dicapai. Ia merupakan satu-satunya perwira tinggi yang datang, ini merupakan kehormatan besar bagi Untung dan menunjukkan hubungan keduanya cukup akrab... (halaman 159-160).

Kembali ke soal dalang G 30 S, salah satu cara yang objektif untuk mencari tahu hal tersebut adalah dengan melihat siapa yang diuntungkan dengan terjadinya peristiwa tersebut. (Penerbit Hasta Mitra)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Catatan:

Galeri Buku berisi buku-buku pilihan tentang "kemanusiaan" yaitu yg menggugah kesadaran  kita bahwa kita manusia sedang dijajah dan ditindas atas nama kemajuan, pembangungan dan globalisasi.

Sebagian buku adalah terjemahan dari karya asing dan sebagian lagi karya asli penulis Indonesia.

Kami tidak menyediakan atau menjual buku-buku yang ditampilkan di galeri ini.